Benarkah Waktu adalah Uang?
Februari 26th, 2009 by janciptaWaktu hanya bisa kita manfaatkan, tidak bisa dibuat, tidak bisa diganti dan tidak bisa dihilangkan.
Saya menganggap detik adalah satuan waktu terkecil yang bisa kita rasakan. Meskipun kita tahu masih ada hitungan waktu yang lebih kecil, seperti milisecond sampai nanosecond dan seterusnya. Tapi “perjalanan waktu” yang bisa langsung kita rasakan adalah detik. Bagi saya, membedakan jeda waktu setengah detik dengan seperempat detik cukup sulit, apalagi dalam satuan yang lebih kecil lagi. Ini bukan membicarakan tentang PENGUKURAN WAKTU tetapi tentang MERASAKAN WAKTU.
Saya sering menyia-nyiakan waktu, kemudian menyesalinya. Kenapa tidak saya manfaatkan sebaik mungkin? Begitu tersadar telah melakukan kekeliruan, waktu sudah berlalu dan tidak mungkin kembali. Kita hanya bisa memperbaiki kekeliruan tersebut diwaktu yang lain. Masa demi masa, detik demi detik terus berjalan tanpa bisa kembali seiring kehidupan yang terus bergerak maju mendekati detik terakhir dari waktu yang kita miliki. Benar, hidup adalah waktu.
Suatu malam saya terhenyak menyadari kenyataan bahwa Allah S.W.T, dzat yang Maha Sempurna pun bersumpah demi waktu untuk mengingatkan kita, para makhluk ciptaanNya, bahwa kita benar-benar dalam kerugian jika tidak beriman dan tidak saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Karena alasan pendeknya bacaan, hanya tiga ayat, Surat Al-Ashr (QS-103) memang sering saya baca dalam shollat. Barulah malam itu saya menyadari artinya. Begitu pentingnya sebuah waktu sehingga dijadikanNya sumpah untuk memperingatkan kita.
Mungkin diantara kita, sayalah yang paling sering menyia-nyiakan waktu, tetapi saya terus berusaha untuk memperbaiki “manajemen waktu” sebaik-baiknya. Semoga hidup kita dari detik ke detik bisa bermanfaat yang baik bagi orang lain, sehingga waktu yang kita lalui menorehkan kenangan manis bagi mereka yang akan kita tinggalkan.